Saturday, November 13, 2010

confession #1

how could you be mine if I couldn't be yours?
how could I miss you if you never would stay?

gimana kita mau jalan bareng kalo tempat kita berpijak aja beda?

#i'm free, don't ever point me out. I'm mine.

Saturday, November 6, 2010

someday

gak ada orang yang belom pernah berpikir tentang someday.
Someday adalah hari di mana semuanya seperti yang kita harapkan.
Seperti yang saya dan teman saya lakukan ketika melewati restoran mewah di pinggir jalan Margonda. Saya melihat muka temen saya yang mupeng, jadi saya asal aja ngomong : "Someday we will", suatu saat nanti pasti kita juga bisa seperti itu. Iya, suatu saat nanti, entah kapan, entah akan benar - benar terjadi atau tidak. Tapi someday cukup dapat membuat kita tenang, dan termotivasi oleh someday. :)
Yes, someday we will.

Sunday, April 25, 2010

jauh

Jauh itu berhubungan dengan jarak.
Jarak itu berhubungan dengan waktu.
Waktu tempuh.
Tapi kini waktu telah dikalahkan oleh teknologi.
Sebuah rindu yang disebabkan oleh jauhnya jarak dan waktu tempuh terkadang mampu dikalahkan oleh handphone, twitter, facebook, plurk, dan pesawat.
Tapi rindu yang ini tidak mampu dikalahkan oleh apapun.
Karena jarak ini tak mampu ditempuh.
Terkadang terasa sangat dekat, tapi terkadang sangatlah jauh.
Rindu ini tanpa perantara.
Perantaranya hanya sebuah doa.

kalo udah begini, the word in my head is so undescribeable. bye! -,-/

Tuesday, April 6, 2010

mengingat masa - masa itu

Waktu saya kelas 1 SMA, saya suka banget sama lagu ini. Ada yang suka juga ga? :)

Monday, April 5, 2010

wanita dan lelaki

dia memandangi lelaki itu,
lelaki itu memegangi rongga dadanya.
Rongga dadanya yang kosong. Hatinya telah dicuri oleh seorang gadis.
Tapi ia masih dapat berjalan, meski tertatih.

dia memandangi wanita itu,
wanita itu memegangi rongga dadanya yang kosong. Hatinya telah dicuri seorang lelaki.
Ia tak mampu lagi berjalan. Jangankan berjalan, untuk berpikir rasionalpun ia tak mampu.

Apa yang salah? Bukankah mereka sama - sama manusia?

Ternyata dia yang salah, lelaki itu tak pernah menyerahkan seluruh hatinya.
Ia masih menyimpan sedikit untuk dirinya.
Ia tak pernah menyerahkan seluruh hatinya yang berbentuk separo itu.

Silakan kritik saya kalau saya menulis seolah semuanya sempurna, sesempurna ejaan yang saya gunakan.

regards.

Wednesday, March 31, 2010

menjadi biasa itu sangat sulit.

Mengapa menjadi biasa itu sangat sulit?
Silahkan anda berkaca kepada saya.

Yayaya, menjadi biasa itu sangat sulit.
Saat saya bertemu di koridor tadi pagi,
saya merasa sangat gagu dan gagap.
Saya berharap ditelan keramik atau dimakan dinding.
karena itu adalah hil yang mustahal,
maka saya hanya bisa berjalan sambil memandangi jari kaki saya.
Dan kemudian saya melewati 'that man' so fast!

Saat saya lagi nunggu dia di lapangan, dia gak datang.
Sakit emang.
Tapi saya bersyukur karena saya gak perlu repot - repot menjelaskan sama dia apa yang sebenernya terjadi.

Tapii..jauh dari itu semua,
saya mendapat sebuah makna yang tersirat.
Mungkin memang lebih baik tidak bertemu, tidak bertemu pandang dan tidak saling menyapa.
Because Allah wants us to care each other. :)

Because we are different. Really different.

Monday, December 21, 2009

yayaya, mungkin ini gak penting..

well, sebelumnya ga ada paksaan ato intervensi dari siapapun atas dibuatnya tulisan ini. Saya memang lagi kesal dan bingung. Seandainya ada teman yang mau mendengarkan curhat saya, mereka pasti bakal bosan setengah mati karena cerita saya hanya berputar – putar ga jelas. Intinya sih sama. Itu-itu aja.

Saya sedang benci sama seseorang, dan sialnya orang itu berjenis kelamin laki-laki. Saya benci ngeliat ambisi dia yang meletup-letup . Saya benci melihat keegoisannya. Saya benci melihat semua yang ada dalam dirinya. Kemudian saya memutuskan untuk membenci lelaki itu. Sampai sekarang.

Dan tidak tau darimana datangnya, benci itu berubah menjadi sesuatu yang lain dalam diri saya. Saya merasa gagap, gagu dan speechless saat dekat dengan dia. Saya merasa kayak pengen ditelan bumi, dimakan dinosaurus, ato diceburin ke laut. Saya berani menatap matanya meskipun kemudian saya berkata dalam hati, “ohh...I’m dying!”
Dan saya ga suka itu, saya merasa itu bukan diri saya, setiap ada dia saya selalu merasa saya tidak menjadi diri saya. Saya selalu berusaha melakukan apapun untuk menghindar dari dia. Tapi bukan berarti rasa itu menjadikan saya berat untuk melangkah. Nope. Itu bukan saya.

Saya sedang berusaha mendayagunakan perasaan saya itu sebagai tools untuk mendongkrak pemikiran saya. Bahwa cinta itu bukan penghalang bagimu untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Termasuk lebih baik dalam mengambil langkah(memilih lelaki-yang-tidak-diharapkan itu masuk dalam kehidupan saya). Saya rasa tidak ada manusia yang tidak salah langkah.

Yaa..terakhir, saya berharap hanya saya yang menjadi korban ketidakadilan ini, bahwa memang batas antara benci dan cinta itu tipis sekali. Dan benci itu sebenarnya pengingkaran dari cinta.

regards :)